Menanam padi saat kemarau dulu mustahil dilakukan di Indonesia. Setelah ditemukan varietas unggul Gogo Rancah pada era Orde Baru, padi bisa ditanam pada lahan kering termasuk musim kemarau. Selain varietas, ada 7 faktor sukses menanam padi saat musim kemarau.

Meski bukan hal baru lagi, penanaman padi saat kemarau belum banyak dilakukan para petani di negeri ini. Minimnya informasi, pengetahuan, dan keterbatasan air menjadi faktor penyebab.

Belakangan ini, Kementerian Pertanian RI gencar melakukan sosialisasi budidaya padi di musim kemarau. Tak hanya sosialisasi, tetapi juga dipraktikkan para petani di berbagai daerah, baik di Jawa maupun luar Jawa.

Baca Juga CARA MENANAM PADI

Menanam Padi Saat Musim Kemarau

1. Pemilihan Bibit Berkualitas

menanam padi
Sumber shutterstock.com/

Salah satu kunci sukses menanam padi saat kemarau adalah pemilihan bibit berkualitas. Saat ini sudah tersedia bibit padi untuk lahan kering.

Beberapa jenis padi varietas unggul yang cocok ditanam saat kemarau antara lain: Ciherang, Mekongga, Situ Bagendit, Situ Patenggang, Limboto. Ada lagi Gowah (Gogo Sawah), Batutegi, Towuti, dan Cibogo.

Inpari juga meluncurkan sejumlah varietas unggul, mulai dari Inpari 10 Laeya, Inpari 38 Agritan, 39 Agritan, 42 Agritan GSR, hingga Inpari 43 Agritan GSR. Inpago mempunyai varietas Inpago 4, 5, 6, 7, 8, hingga Inpago 9.

Loading...

Meski berbagai varietas tahan kekeringan, air tetap dibutuhkan. Sebab padi tidak bisa ditanam jika tak ada air sama sekali. Apalagi pada stadium awal pembibitan.

Namun kebutuhan air untuk tanaman padi sebenarnya tidak terlalu banyak. Karena itu, ia masih dapat dibudidayakan saat kemarau.

Selain varietas, pilihlah benih yang berkualitas baik, dengan ciri-ciri sebagai berikut:

  • Tidak ada bulir kosong atau gabah hampa, juga potongan jerami, ditambah kerikil, tanah, dan serangan hama gudang.
  • Warna gabah sesuai dengan aslinya (jenis atau varietas), serta terlihat cerah.
  • Bentuk gabah tidak berubah dan sesuai dengan aslinya.
  • Daya perkecambahan lebih 80% (bisa diketahui dari rekam jejak varietasnya).

2. Kondisi Lahan Tanam

Tanaman padi bisa tumbuh di dataran rendah – menengah, (0-650 m dpl) hingga dataran tinggi (650-1.500 m dpl). Padi bisa ditanam di daerah beriklim tropis maupun subtropis, dengan curah hujan rata-rata 1.500 – 2000 mm / tahun.

Padi bisa ditanam saat musim hujan maupun kemarau. Saat kemarau, produksinya cenderung meningkat. Sebab penyerbukan berlangsung sempurna tanpa gangguan hujan. Hanya saja, air harus tersedia.

Hal inilah yang sebelumnya jarang diketahui oleh sebagian besar petani di Indonesia. Di musim hujan, tanaman padi memang tumbuh subur. Tapi hasilnya justru cenderung menurun, karena penyerbukan terganggu oleh hujan.

a. pH Tanah

Derajat keasaman (pH) tanah untuk tanaman padi sekitar 4 – 7. Jenis tanah berlumpur, dengan ketebalan 20 cm, cocok untuk menanam padi. Tanah lempung (liat) juga masih bisa digunakan. Tetapi tanah pasir tidak cocok, karena bersifat porous (tidak mengikat air).

Lahan budidaya padi harus terkena sinar matahari secara langsung, alias tanpa naungan. Sinar matahari berguna dalam proses fotosintesis, terutama saat pembungaan dan pemasakan biji.

b. Suhu dan Iklim Sekitar

Suhu udara ideal bagi pertumbuhan tanaman padi di dataran rendah sekitar 22 – 27 oC. Di dataran tinggi, suhu udara optimal sekitar 19 – 23 oC.

Suhu ikut berperan dalam menentukan jadi dan tidaknya penyerbukan dan saat pengisian biji (bernas atau hampa).

3. Perawatan Selama Masa Tanam

menanam padi
Sumber shutterstock.com/

Sebelum membahas perawatan, kenali dulu tiga fase pertumbuhan tanaman padi:

  • Fase vegetatif (pertumbuhan): fase pembentukan akar, batang dan daun, mulai dari perkecambahan sampai terbentuk malai (rangkaian bulir padi). Fase ini berlangsung sekitar 50-60 hari.
  • Fase generatif (pembungaan): fase pembentukan bulir hingga pembungaan (30-35 hari).
  • Fase pembentukan gabah / biji: fase terakhir, dimulai dari pembungaan hingga biji padi masak fisiologis, yang berarti siap dipanen.

Setiap fase memerlukan perawatan dan penanganan yang berbeda-beda. Aktivitas perawatan yang dilakukan antara lain penyulaman, penyiangan, penyiraman, dan pemupukan.

A. Penyulaman

Apabila ada tanaman yang mati, harus segera diganti (disulam). Tanaman sulam bisa menyamai yang lain, jika penggantian bibit tidak lebih dari 10 hari sesudah tanam.

B. Penyiangan

Penyiangan dilakukan jika lahan mulai ditumbuhi gulma atau rumput liar. Cangkul kecil / sabit bisa digunakan untuk keperluan ini.

Penyiangan ini bertujuan menghilangkan gulma agar tidak menjadi kompetitor bagi tanaman padi dalam memperoleh makanan / unsur hara dalam tanah. Penyiangan dilakukan dua kali, yaitu saat padi berumur 3 minggu dan 6 minggu.

4. Sistem Pengairan atau Kanal

Teknik pengairan yang tepat menjadi salah satu kunci sukses menanam padi saat kemarau. Tanpa air, tentu tanaman padi akan mati.

Jika jaringan irigasi masih memungkinkan ketersediaan air, tentu ini tidak menjadi masalah. Jika air irigasi tak mengalir, harus diupayakan cara lain, misalnya:

A. Sumur Suntik / Pantek

Pembuatan sumur suntik dapat menjadi alternatif sumber pengairan pada musim kemarau. Air sumur bisa diangkat dengan bantuan pompa.

Sumur suntik dibuat melalui pengeboran pipa secara manual, sehingga kedalamannya maksimal 40 meter. Asalkan air sudah mengucur deras, sumur sedalam 20 meter pun sudah memadai.

Sumur suntik / pantek makin optimal jika dibarengi dengan pembuatan lubang biopori. Selama ini, lubang biopori sering dikaitkan dengan upaya pencegahan banjir. Air hujan cepat meresap ke dalam tanah dan menyusup menjadi air bawah tanah.

Makin banyak lubang biopori dibuat di setiap dusun atau desa, makin banyak pula ketersediaan air bawah tanah. Dengan demikian, pasokan air bawah tanah tercukupi. Air bawah tanah inilah yang akan mengisi sumur suntik, dan sangat berguna di musim kemarau.

B. Sumur Dalam

Prinsipnya sama seperti sumur suntik. Namun pembuatannya menggunakan mesin pengeboran sehingga mampu mencapai kedalaman lebih dari 100 meter. Biaya pembuatannya lebih mahal.

C. Sudetan Sungai / Kanal Terpal

Dalam metode ini, air sungai dibelokkan ke sawah. Media untuk membelokkan air bermacam-macam. Misalnya terpal yang disambung-sambung hingga mencapai panjang tertentu (contoh yang pernah ada 40 meter).

Air sungai akan melewati “kanal-kanal” terpal, kemudian ditampung dalam embung. Dari sini, air dinaikkan ke tandon dengan bantun pompa. Dari tandon, air dialirkan ke sawah.

D. Irigasi Tetes

Pada metode ini, air dibiarkan menetes pelan-pelan ke akar tanaman, sehingga penggunaan air bisa efisien (70-80%). Bahkan paling efisien ketimbang metode irigasi lainnya (rerata 40 %).

Tapi irigasi tetes hanya bisa diaplikasikan melalui gaya gravitasi. Jika air berasal dari sungai atau sumur, maka harus ditampung di tandon yang letaknnya lebih tinggi. Diperlukan pompa untuk menaikkan air ke tandon. Dari tandon, air dialirkan ke tanaman.

Keempat metode ini sudah dipraktikkan di sejumlah daerah. Sudah sukses, dalam arti kalangan petani sudah menikmati panen padi di musim kemarau.

Ada dua kunci utama dalam perbaikan pengairan ini, yakni pompanisasi dan pipaniasi. Kedua program inilah yang terus digencarkan Pemerintah RI melalui Kementerian Pertanian.

Baca Juga CIRI CIRI TANAMAN PADI (AKAR, BATANG, DAUN, BUNGA, DAUN) DAN JENIS PADI

5. Sistem Pemupukan Tanaman Padi

Pemupukan harus disesuaikan dengan tingkat kesuburan tanah. Disarankan menggunakan dua jenis pupuk: anorganik dan organik. Tujuannya agar produktivitas tinggi, tapi kesuburan tanah tetap terjaga.

Pupuk anorganik terdiri atas urea, SP36, dan KCl. Sebab ketiganya mengandung unsur hara yang sangat dibutuhkan tanaman: nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K).

N dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman, pembentukan anakan, pembentukan klorofil yang berperan dalam proses fotosintesis, serta merangsang pembentukan gabah.

F merupakan sumber tenaga (ATP) yang membentuk tanaman agar tumbuh dan masak secara bersamaan.

K berfungsi menunjang berlangsungnya reaksi enzim dalam tanaman, memperbaiki rendemen gabah, meningkatkan ketahanan terhadap kekeringan dan hama penyakit.

Pemupukan berdasarkan fase pertumbuhan, dengan dosis berbeda-beda pula:

  • Pemupukan 1, umur 7-10 HST (urea 50-75 kg / ha + SP36 100-150 kg / ha + KCl 50 kg / ha).
  • Pemupukan 2, umur 21 HST (hanya urea 100-150 kg / ha).
  • Pemupukan 3, umur 40 HST (urea 50-100 kg / ha + KCl 50-100 kg / ha).

Untuk menjaga kesuburan tanah, sekaligus meningkatkan ketahanan tanaman padi terhadap kekeringan, kita juga perlu menggunakan pupuk organik.

Lebih praktis lagi kalau menggunakan pupuk organik cair. Banyak produk bagus yang beredar di pasaran, antara lain SOC GDM. Pupuk disemprotkan ke seluruh bagian tanaman.

6. Pengendalian Hama dan Penyakit

Hama merupakan hewan atau mikroorganisme pengganggu tanaman. Sebagian hama dapat menyebabkan penyakit, sehingga harus dicegah dan diatasi.

Penyakit adalah kondisi di mana tanaman mengalami gangguan fisiologis akibat serangan hama dan agen-agen penyakit seperti jamur, bakteri, dan virus.

Pencegahan hama dan penyakit pada tanaman padi, maupun tindakan kuratif yang diperlukan, bisa berbeda-beda.

A. Mencegah dan Mengatasi Serangan Hama

  • Hama putih (Nymphula depunctalis): Bisa dicegah melalui pengaturan air yang baik, dan penggunaan bibit sehat. Bisa diatasi dengan melepas musuh alami, atau penyemprotan insektisida Kiltop 50 EC atau Tomafur 3G.
  • Padi trip (Trips oryzae): Bisa diatasi dengan insektisida Mipein 50 WP atau Dharmacin 50 WP.
  • Ulat tentara (Pseudaletia unipuncta): Bisa diatasi secara mekanis dan kimia (insektisida Sevin, Diazenon, Sumithion dan Agrocide).
  • Wereng cokelat (Nilaparvata lugens): Bisa dihindari dengan menggunakan varietas unggul, dan menjaga kebersihan. Bisa diatasi dengan melepas musuh alami seperti laba-laba, kepinding dan kumbang lebah. Bisa disemprot dengan insektisida Applaud 10 WP, Applaud 400 FW atau Applaud 100 EC.
  • Walang sangit (Leptocoriza acuta): Bisa dicegah dengan menjaga kebersihan. Bisa diatasi dengan mengumpulkan dan memusnahkan telur, melepas musuh alami seperti jangkrik, menyemprotkan insektisida Bassa 50 EC, Dharmabas 500 EC, Dharmacin 50 WP, Kiltop 50 EC.
  • Kepik hijau (Nezara viridula): Pengendalian : mengumpulkan dan memusnahkan telurtelurnya, penyemprotan insektisida Curacron 250 ULV, Dimilin 25 WP, Larvin 75 WP.
  • Hama tikus (Rattus argentiventer):  Bisa diatasi dengan menjaga kebersihan. Bisa diatasi dengan gropyokan, melepas musuh alami (ular dan burung hantu), pasang perangkap atau umpan racun, gunakan pestisida secara tepat, intensif dan teratur.
  • Burung: Terutama manyar, gelatik, pipit, bondol hitam, dan bondol putih. Diusir dengan bunyi-bunyian atau orang-orangan.

B. Mencegah dan Mengatasi Penyakit Tanaman Padi

  • Bercak daun cokelat: Dapat dicegah dengan menggunakan varietas unggul yang tahan terhadap penyakit ini, merendam benih dalam air panas, dan pupuk berimbang. Bisa diatasi dengan menabur serbuk air raksa dan bubuk kapur (2:15), atau insektisida Rabcide 50 WP.
  • Blast: Bisa dicegah dengan menanam varietas unggul Sentani, Cimandirim IR 48, IR 36, pemberian pupuk N saat pertengahan fase vegetatif dan pembentukan bulir. Diatasi dengan insektisida Fujiwan 400 EC, Fongorene 50 WP, Kasumin 20 AS atau Rabcide 50 WP.
  • Garis cokelat daun: Bisa diatasi dengan menggunakan varietas Citarum, mencelup benih dalam larutan merkuri. Bisa diobati dengan fungisida Benlate T 20/20 WP atau Delsene MX 200.
  • Busuk pelepah daun: Bisa dicegah dengan menggunakan varietas yang tahan terhadap penyakit ini, atau semprotkan fungisida Monceren 25 WP dan Validacin 3 AS saat fase pembentukan anakan.
  • Fusarium: Bisa dicegah dengan merenggangkan jarak tanam, atau mencelupkan benih pada larutan merkuri.

7. Penanganan Hasil Panen

Masa panen padi tergantung varietas masing-masing. Biasanya sekitar 30-35 hari setelah fase generatif (pembungaan).

Usahakan jangan dipanen ketika bulir padi sudah 100% masak fisiologis, tetapi sekitar 90 – 95%. Hal ini dapat dilihat dari sebagian besar bulirnya yang berwarna kuning, namun di bagian bawah malai masih ada sedikit gabah hijau.

Jika dipanen saat banyak bulirnya yang masih hijau, nanti akan banyak bulir yang patah pucuk. Hal ini jelas akan mengurangi kualitas beras yang dihasilkan.

Tapi jika terlambat panen bisa mengakibatkan banyak gabah yang rontok di areal persawahan. Setelah dipanen, padi akan menjalani beberapa proses berikut ini:

A. Perontokan

Harus dilakukan secepatnya usai panen. Caranya, padi diinjak-injak dan dihempas / dibanting.  Bisa juga menggunakan mesin perontok padi.

B. Pembersihan

Bersihkan gabah dengan cara diayak, atau dengan blower manual. Kadar kotoran tidak boleh lebih dari 3 %.

C. Pengeringan

Gabah dijemur selama 3-4 hari selama 3 jam / hari, sampai kadar airnya 14 %. Biasanya cukup dijemur di halaman. Bisa juga menggunakan mesin pengering, di mana kebersihan gabah lebih terjamin.

D. Penyimpanan

Gabah dimasukkan ke dalam karung bersih. Jauhkan dari beras, karena beras bisa menularkan hama (jika ada) kepada gabah. Gabah siap dibawa ke tempat penggilingan beras.

Demikianlah ulasan singkat dari sawonbudidaya mengenai faktor Sukses Menanam Padi Saat Musim Kemarau, semoga sedikit infromasi ini dapat bermanfaat untuk anda semua dan terima kasih atas perhatiannya.