pinang
Pertanian Pohon Pohon Pinang

Pinang : Deskripsi, Klasifikasi, Morfologi, Budidaya, Hama dan Penyakit

Pinang – Secara umum termaksud tanaman monokotil dan termasuk famili Palmaceae, genus Areca. Selain itu, pinang merupakan tanaman berumah satu (monoceous), yaitu bunga betina dan bunga jantan ber-ada dalam satu tandan dan menyerbuk silang. Hingga saat ini belum diketahui dengan pasti. Kuat dugaan bahwa tanaman ini adalah tanaman asli Asia Selatan.

Penyebarannya meliputi Asia Selatan, Asia Tenggara, serta beberapa pulau di Laut Pasifik. Spesies terbesar dari tanaman ini terdapat di Semenanjung Malaya (Malay-Archipelago), Filipina dan Kepulauan Hindia Timur (East Indies Island). Pola penyebaran spesies Areca di Indonesia terutama di Malaya, Kalimantan dan Sulawesi yang terdiri dari 24 spesies.

Biasanya buah pinang digunakan sebagai stimulansia, dicampur dengan sirih, kapur dan tembakau. Penggunaan buah pinang selain untuk ramuan sirih pinang, juga dimanfaatkan sebagai bahan baku industri dan farmasi. Di bidang industri digunakan dalam penyamakan kulit, pewarna kain dan kapas.

Pinang juga dimanfaatkan untuk bidang farmasi, yaitu sebagai campuran pembuat obat-obatan, Teknologi Budidaya dan Pasca Panen Pinang seperti obat disentri, cacing, obat kumur dan lan-lain.

yaitu (1) Areca catechu varietas Alba juga disebut pinang putih dengan ciri-ciri buah berukuran besar dan memiliki aroma seperti nasi yang baru ditanak pada saat dikunyah, dan (2) Areca catechu varietas Nigra atau disebut pinang hitam dengan ciri buah berukuran lebih kecil dari varietas Alba.

Baca Juga manfaat Buah Pinang Muda dan Tua Untuk Pria serta Wanita

Daftar Isi

Loading...

Klasifikasi Ilmiah Pohon Pinang

Devisi Spermatophyta
Sub Divisi Angiospermae
Klas Monocotyledoneae
Ordo Principes/Palmales/Arecales
Family Palmae/Arecaceae
Sub Family Arecoideae
Genus Areca
Species Areca catechu L.
Jumlah kromosom diploid 32

Morfologi Tanaman Pinang

morfologi pinang
Via www.jubi.co.id

Batang

Pinang merupakan tanaman soliter (tumbuh secara individual), berbatang lurus dan mampu mencapai tinggi 20 – 30 meter dengan diameter antara 25-30 cm. Batang pinang memiliki ruas bekas daun (nodus) yang jelas dengan jarak antar ruas 15-20 cm, tergantung varietas. Makin rapat jarak antar ruas batang makin baik.

Daun

Jumlah daun pinang bervariasi antara 7-10 helai. Daun pinang berbentuk menyirip majemuk dengan panjang antara 1-1,5 m, memiliki anak daun (leaflet) berjumlah antara 30-50 pinak daun.

Bunga

Pohon pinang memiliki bunga sempurna atau rumah satu, artinya bunga jantan dan bunga betina berada dalam satu rangkaian bunga (inflorescence).

Bunga betina terletak pada bagian dasar dari tangkai rangkaian bunga (spikelet), untuk bunga jantan terletak menyebar dibagian luar hingga ujung tangkai bunga. Ukuran bunga jantan lebih kecil dibandingkan bunga betina,

Bunga betina berukuran panjang 1.3 – 2.0 cm. Umumnya bunga betina hanya memiliki idung telur atau ovary 3 dan 6 benang sari perbunganya, bunga jantan maupun bunga betina memiliki 6 petal, tetapi tidak memiliki tangkai bunga dan berwarna putih susu.

Buah

Buah pinang termasuk buah drupe (buah batu) karena lapisan bagian dalamnya atau endocarp liat, tebal dan keras seperti batu; berwarna kuning sampai oranye pada saat masak. Pericarp bersabut dengan ketebalan 5-6 mm. Biji berbentuk lonjong, bulat,

atau elip, dengan bagian dasar biji rata. Embrio terletak pada bagian dasar biji. Pembungaan dimulai saat tanaman berumur 4-6 tahun, mulai produksi buah saat berumur 7-8 tahun. Puncak produksi sampai umur 10-15 tahun dan berlanjut sampai umur 40 tahun, kemudian menjadi steril sampai tanaman mati.

Baca Juga Jenis dan Ciri ciri Pohon Pinang Beserta Syarat Tumbuhnya

Varietas Unggulan Pohon Pinang

varietas pinang unggulan
Via www.pranagogreen.com

Keragaman karakter dalam koleksi sumberdaya genetik pinang cukup luas. Beberapa karakter yang dapat dijadikan sebagai pembeda antar varietas antara lain, tinggi batang, warna buah, ukuran buah, dan produksi buahnya. Di India terdapat 5 varietas unggulan yang didasarkan pada produksi buah matang/pohon/tahun.

Kelima varietas tersebut adalah: a). Mangala 10 kg buah matang/ pohon/ tahun; b). Sumangala 17,25 kg buah matang/pohon/tahun; c). Sree Mangala 15,63 kg buah matang/pohon/ tahun; d). Mohitnagar 15,8 kg buah matang/pohon/tahun; dan e.) Calicut 18,89 kg buah matang/ pohon/tahun.

Baca Juga Harga Pinang Ditahun 2019 Indonesia Terbaru Hari Ini

Memperbanyak Pinang

Bagian terpenting dalam memperbanyak tanaman pinang adalah ketersedian indukan pinang berkualitas, Seleksi pohon induk dilakukan dalam suatu populasi tanaman atau suatu blok pertanaman.

Dengan begitu, melakukan seleksi indukan pinang tidak dapat dilakukan sembarang, berikut beberapa syarat atau ciri ciri indukan yang berkualitas unggulan yaitu

  • Berbunga lebih awal (6 sampai dengan 7 tahun)
  • Prosentase buah jadi atau fruit set tinggi
  • Jarak antar nodus (ruas batang) pendek
  • Jumlah daun banyak (minimal 7, tergantung varietas)
  • Produksi tandan minimal 4 tandan per tahun
  • Produksi buah per tandan minimal di atas 50 butir.

Disarankan untuk tidak memilih pohon induk yang berasal dari blok pertanaman yang telah berumur lebih dari 25 tahun, karena cenderung menurun produktivitasnya.

Syarat Tumbuh Pohon Pinang

syarat tumbuh pinang
Via risehtunong.blogspot.com

Tanah

Tanaman pinang dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, tapi yang paling sesuai adalah jenis tanah berliat (clay loam). Persyaratan lain yang perlu diperhatikan adalah tanah harus beraerasi baik, solum tanah dalam dan tidak terdapat lapisan cadas.

Loading...

Ketinggian Lokasi

Tanaman pinang dapat tumbuh pada daerah-daerah dengan ketinggian mulai dari 1 meter sampai dengan 1.400 meter di atas permukaan laut.

Iklim

Tanaman pinang tumbuh dengan subur pada iklim tropis dengan pengaruh kondisi laut dan tumbuh sampai pada ketinggian 900 meter di atas permukaan laut.

Curah Hujan

Tanaman pinang membutuhkan kelembaban tanah yang cukup dan curah hujan tinggi sepanjang tahun dengan kisaran 1500 sampai dengan 5000 mm dengan hari hujan berkisar antara 100 sampai dengan 150 hari. Bulan basah berkisar antara 3 sampai dengan 6 bulan per tahun, sedangkan bulan kering yang dapat ditolerir oleh tanaman pinang berkisar antara 4 sampai dengan 8 bulan per tahun.

Tanaman pinang sangat sensitif terhadap kekeringan dan tidak sesuai dikembangkan di daerah-daerah dengan curah hujan kurang dari 1250 mm per tahun sehingga dibutuhkan irigasi. 

Intensitas Sinar Matahari

Cahaya matahari sangat berpengaruh dalam pertumbuhan tanaman pinang. Kebutuhan cahaya matahari yang ideal untuk pertumbuhan tanaman pinang adalah 6-8 jam/hari.

Budidaya Pinang

budidaya pinang
Via bibitpinangbetara.co.id

Produksi pinang yang tinggi akan dicapai dengan penerapan teknik budidaya yang baik. Beberapa tahapan yang perlu diperhatikan dalam budidaya tanaman pinang adalah:

1. Persiapan Benih

Jumlah Benih

Budidaya tanaman pinang dilakukan mulai dari penyemaian biji. Meskipun tingkat tumbuh kecambah pada bibit pinang tergolong tinggi , yaitu lebih dari 90 persen, kebutuhan biji untuk disemaikan sebaiknya dicadangkan sebanyak 25% dari jumlah benih yang dibutuhkan dalam setiap hektar areal tanam. Penanaman dengan arak tanam 2,7 m X 2,7 m, membutuhkan 1.300 tanaman/ha. Oleh karena itu, disiapkan seba-nyak 1.625 benih untuk disemaikan.

Kriteria Buah untuk Benih

Beberapa kriteria tentang buah pinang yang baik untuk dijadikan benih, adalah ukuran, berat, dan umur buah. Dari ketiga hal tersebut, ukuran lah yang menjadi kategori terpenting. Terdapat buah pinang yang berukuran besar dan kecil, sebaiknya anda memilih bibit pinang yang berukuran besar. Untuk lebih jelasnya simak ulasan berikut

a. Sebaiknya buah diambil yang berukuran besar dan seragam, buah yang besar berpotensi menghasilkan keturunan dengan buah besar juga.

b. Berat buah yang dijadikan benih sekitar 60 buah/kg, atau kurang lebih bobot buah sekitar 35 g/butir.

c. Umur pohon yang baik > 10 tahun dan telah stabil berproduksi, sampai umur 25 tahun.

d. Buah untuk benih harus matang fisiologis ditandai dengan warna buah oranye, atau telah berumur kurang lebih 12 bulan.

e. Tidak terserang hama dan penyakit.

2. Persiapan Lahan

Sebelum mengecambahkan biji, lahan persemaian/pendederan perlu disiapkan terlebih dahulu. Untuk kebutuhan benih pada penanaman di lahan seluas 1 ha maka luas pesemaian yang diperlukan berkisar 4-5 m² atau sekitar 400 biji/m2. Langkah-langkah persiapan lahan pendederan sebagai berikut:

a. Lokasi pesemaian harus cukup baik atau subur dan aman dari gangguan orang, ternak dan organisme pengganggu lainnya.

b. Lahan dibersihkan dari rumput dan digemburkan.

c. Buat bedengan memanjang sesuai kebutuhan dan kondisi lahan dengan lebar 1 meter. Caranya dengan menggali saluran drainase diantara dua bedengan dan tanah galiannya diuruk ke tengah sambil diratakan.

Tahapan Perkecambahan Biji

a. Menyusun buah pinang terpilih pada bedengan dengan posisi horizontal. Penyusunan harus rapat agar daya tampung bedengan maksimal.

b. Menutup buah pinang tersebut dengan tanah berpasir.

c. Bedengan diberi naungan agar kelembaban terjaga dan ter-hindar dari teriknya penyinaran matahari langsung.

d. Bedengan diberi pagar agar terhindar dari gangguan hewan.

Perkecambahan berlangsung sekitar 1,5-3 bulan. Saat itu akar atau tunas dari buah sudah bermunculan. Daya kecambah buah pinang dapat mencapai 90 persen.

3. Pembibitan

Ketika pertumbuhan kecambah berhasil, tahap selanjutnya dari budidaya pinang adalah proses pembibitan. Pada proses ini dilakukan 2 tahap, apa saja itu ? simak ulasan dibawah ini.

Pembibitan Tahap Pertama

Hasil bibit yang sudah tumbuh kecambah akan dibesarkan dilahan dengan lebar 1 m dan panjang disesuaikan dengan kondisi lapangan dan bedengan diberi dinding keliling dari papan setinggi polybag (15 cm). Tujuannya agar polybag dapat disusun tegak dan rapi. Sebaiknya anda memilih polybag yang berukuran 25 cm x 25 cm atau volume 1 kg media tanam.

Polybag harus memiliki lubang di bagian bawahnya agar drainasenya baik. Polybag dengan tanah hingga setinggi 3/4 bagian, lalu dipadatkan. Biji pinang yang sudah berkecambah ditanam didalam polibag pada kedalaman 4 cm atau posisi rata dengan tanah. Setiap polybag diisi satu kecambah. Selanjutnya kecambah ditutup dengan tanah secukupnya agar kelihatan rapi.

Bedengan diberi naungan dengan tinggi tiang naungan sekitar 2,5 m. Naungan terbuat dari daun kelapa, nipah dan alang-alang. Naungan mulai dikurangi setelah bibit berumur 2 bulan.

Tujuan dari pengurangan naungan yaitu agar bibit dapat dipindahkan kelahan pembibitan tahap kedua atau sudah berumur 5 bulan. Selama dalam pembibitan, bibit perlu dipelihara dengan cara sebagai berikut:

  • Penyiraman dilakukan setiap pagi atau sore hari sebanyak 0,25 l/polybag, atau kondisi tanah dalam polybag sudah jenuh air.
  • Penyiangan gulma dilakukan bila di dalam dan disekitar polybag tumbuh gulma.
  • Pemberian pupuk majemuk NPK dilakukan dengan dosis 4 g/polybag.
  • Pencegahan hama dan penyakit dilakukan dengan menyem-protkan insektisida dan fungisida.
  • Seleksi bibit yang baik adalah bibit yang berpangkal relatif besar berbentuk seperti botol dan helaian daun melengkung.

Pembibitan Tahap Kedua

Pada pembibitan tahap kedua ini, bibit pada pembibitan pertama dipindah kedalam polibag ukuran 40 cm x 50 cm. Lahan yang digunakan dapat dilakukan dilahan pembibitan tahap pertama. Sebaiknya jarak antar bibit atau polybag berkisar 30 cm x 30 cm.

Lahan harus datar agar polybag tidak rebah. Kedalam polybag diisi tanah subur media tanam 2/3 bagian dan bisa ditambah kompos. Lalu 50% adalah kompos plus (pada bagian bawah) dan 50% sisanya diisi tanah biasa (pada bagian atas).

Bibit dari polybag kecil pada pembibitan tahap pertama dapat dipindahkan kedalam polibag tersebut di atas dengan cara menyobek polybag kecil, dan selanjutnya bibit ditanam dalam polybag besar. Tanah dalam polibag harus relatif padat dan pangkal batang bibit tepat pada permukaan polybag.

Agar pertumbuhan tanaman di polybag sempurna, perlu dilakukan pemupukan dengan pupuk NPK dengan dosis 20 g/ polybag. Lokasi pembibitan sebaiknya diberi pagar keliling agar terlindung dari gangguan ternak maupun hewan lainnya. Saran, sebaiknya lokasi pembibitan tahap kedua ini dekat dari sumber air. Proses pemeliharaan bibit ini dilakukan selama 12 bulan sebelum dipindahkan ke lapang.

Seleksi Bibit

Sebelum dipindahkan ke lapang, sebaiknya dilakukan seleksi bibit yang vigor atau kekar dengan kriteria sebagai berikut:

a. Bibit yang akan dipindahkan ke lapang berumur antara 12 – 18 bulan.

b. Jumlah daun minimal 5 helai.

c. Tinggi sekitar 60-75 cm dengan lingkar batang yang kekar.

d. Tidak terserang hama dan penyakit.

4. Persiapan Lahan Penanaman

Tahapan yang harus dilakukan setelah lokasi tanam ditentukan adalah persiapan lahan yang dimulai dari pembukaan lahan (jika tanah berupa hutan semak, atau hutan lainnya) sampai dengan pembuatan lubang tanam.

Pembukaan Lahan

Lahan yang dapat ditanami tanaman pinang adalah lahan semak belukar, lahan tidur dan lahan pekarangan.

Penentuan Jarak Tanam

Jarak tanam yang umum digunakan di lapang adalah 2,7 m x 2,7 m segi empat. Jarak tanam ini dianggap cukup efisien untuk pertumbuhan tanaman. Dengan jarak tanam demikian, diantara tanaman pinang dalam barisan dapat ditanami dengan tanaman lain seperti tanaman palawija sebagai tanaman tumpang sari.

Pemansangan Tiang Ajir

Tujuan pemasangan tiang ajir agar  mempermudahkan penentuan letak lubang tanam dan jarak menjadi lebih teratur. Peralatan yang digunakan untuk pengajiran adalah tali nilon, meteran dan tiang ajir dari bambu setinggi 1,75 m. Tali nilon disiapkan sepanjang 100 m. Kemudian diberi tanda dengan mengikatkan potongan tali nilon yang warnanya berbeda dengan tali induk.

Batas setiap tanda sepanjang 2.7 m, disesuaikan dengan jarak tanam anjuran (2,7 m x 2,7 m). Setelah peralatan siap, pemancangan tiang ajir dapat dilakukan, dengan cara sebagai berikut:

1. Menentukan arah Timur dan Barat dan menentukan satu titik di sudut Barat dan satu titik lainnya di sudut Timur.

2. Menancap tiang ajir pada kedua titik tersebut dan mem-bentangkan tali nilon 100 meter (sesuai kebutuhan) yang meng-hubungkan kedua ajir tersebut.

3. Memasang simpul sepanjang tali (simpul dari tali nilon dengan warna berbeda dari tali pertama) dengan jarak antar simpul 2.7 meter. Tali bersimpul ini merupakan baris pertama (bukan urutan baris pertanaman).

4. Membuat baris kedua. Untuk baris pertama, anda harus menentukan satu titik secara acak (tepat pada salah satu simpul) dan dari titik tersebut ditarik meteran sepanjang 8 meter.

5. Dari titik yang sama, ditarik meteran ke arah samping (kiri atau kanan) sepanjang 6 meter tegak lurus dengan baris pertama dan menghubungkan titik pada ujung titik 6 meter dengan ujung dari titik 8 meter pada baris pertama, sehingga membentuk segi tiga siku-siku.

Penarikan garis ini harus diatur sampai membentuk sisi dengan panjang 10 meter mengikuti Rumus Pitagoras.

6. Setelah diperoleh segitiga siku-sikunya, maka tarik garis lurus pada sisi 6 meter dari segitiga siku-siku tersebut, diper-oleh baris kedua.

7. Pembuatan baris ketiga dilakukan pada bagian sebelah dari baris pertama atau baris kedua dengan cara yang sama seperti point 4 sampai point 6.

8. Selanjutnya dengan menggunakan tali nilon panjang yang telah diberi simpul berjarak 2.7 meter, baris pertama, kedua dan ketiga dihubungkan sambil memancangkan tiang ajir sampai seluruh lahan terisi dengan tiang ajir.

Pembuatan Lubang Tanam

Sebaiknya lubang yang akan digunakan untuk menanam pinang berukuran 50 cm x 50 cm x 50 cm. Lubang tanam harus sudah dibuat 1 bulan sebelum penanaman, karena perlu dibiarkan terbuka kena sinar matahari. Kemudian setiap lubang di isi tanah lapisan atas yang telah dicampur dengan kompos atau pupuk kandang sebanyak 1 kg. Selain itu, tanah lapisan atas tersebut dapat dicampur pupuk NPK sebanyak 50-75 g/lubang. Tanah tercampur pupuk tersebut dimasukan ke lubang hingga 2/3 bagian.

Sistim Penanaman

Ada dua sistim penanaman pinang yang dapat dilakukan, yaitu penanaman dengan sistim monokultur dan penanaman dengan sistim tumpang sari.

1. Penanaman Sistim Monokultur

Dalam sistim ini hanya satu jenis tanaman menghasilkan. Penanaman sebaiknya pada musim penghujan. Bibit yang ditanam sudah merupakan hasil seleksi. Baca Juga Apa Pola Tanam Monokultur dan Polikultur itu?

2. Penanaman dengan Sistim Tumpang Sari

Penanaman sistem tumpang sari memberikan nilai tambah petani karena tanaman pinang baru berproduksi pada umur 5 tahun. Tanaman tumpang sari yang biasa ditanam adalah tanaman palawija antara lain jagung, kacang-kacangan.

Tanaman tumpang sari pada pertanaman pinang akan mem-berikan manfaat ganda pada petani, yakni pendapatan sebelum tanaman berproduksi dan efektifitasnya pemeliharaan tanaman pinang.

6. Pemeliharaan Tanaman

Pemeliharaan tanaman pinang dilakukan agar tanaman lebih vigor pada pertumbuhan awalnya. Tanaman yang vigor pertum-buhannya baik biasanya berkorelasi dengan pembungaan yang lebih cepat.

Penyulaman

Penyulaman dilakukan untuk tanaman-tanaman yang mati atau rusak. Sebaiknya dalam penyediaan bibit untuk dipindahkan ke lapang, disisihkan sebanyak 25 persen dari total kebutuhan tanaman untuk satu hektar lahan yang akan ditanami sebagai tanaman sulaman.

Pemupukan

Sebaiknya pemupukan dilakukan sebanyak 2 kali satu tahun, yaitu pada awal musim penghujan dan pada akhir musim penghujan. Dosis pupuk untuk tanaman muda dan tanaman yang mulai berbunga seperti tabel berikut.

Takaran Pupuk Pohon Pinang

Umur Tanaman Urea (g) TSP (g) KCL (g) Pupuk Kandang (g)
1-3 Tahun 55 40 180  
>4 Tahun 220 80 240 6

Penyiangan Gulma

Pembersihan blok pertanaman

Pembersihan blok sebaiknya dilakukan tergantung keadaan gulma minimal 4 kali setahun. Penyiangan dapat dilakukan secara mekanik atau dengan menggunakan herbisida.

Ring Weeding

Gulma di sekeliling pohon pinang pada radius 1,5 m disiang secara mekanik atau menggunakan herbisida, dilakukan sebelum dilakukan pemupukan.

Pengairan

Pinang termaksud tanaman yang sangat peka terhadap kekeringan, oleh sebab itu pengairan penting dilakukan pada daerah yang memiliki musim kering panjang. Tanaman perlu diairi sekali dalam 4 sampai 7 hari tergantung jenis tanah dan iklim.

7.Panen

Panen dapat dilakukan dengan dua cara sesuai dengan kebutuhan produk pinang yang diinginkan, yaitu panen buah masak penuh dan panen buah muda.

Panen Buah Matang Penuh.

Tanda buah siap panen adalah warna kulit berwarna kuning kehijauan atau oranye. Proses panen dapat dilakukan setiap bulan dengan menggilir beberapa kelompok tanaman. Pada skala usaha luas 1 ha, panen dapat diatur sekali sebulan dengan produksi rata-rata 400-450 kg biji pinang kering.

Panen Buah Muda

Panen buah muda biasanya dilakukan sesuai dengan kebiasaan konsumsi buah pinang, seperti di Papua yang memanen buah muda kira-kira berumur 3-4 bulan. Biasanya buah dengan umur demikian endosperm (kernel) masih lembut, langsung dikunyah utuh bersama-sama dengan sirih, kapur dan gambir.

Hama dan Penyakit Pinang

Hama dan penyakit penting pada tanaman pinang mulai dari pembibitan sampai di gudang penyimpanan adalah sebagai berikut:

A. Hama

hama
Via risehtunong.blogspot.com

Bagworms (Ulat kantung)

Penyebabnya adalah Manatha albipes Moore. Ditemukan pada bagian bawah pelepah daun dan membuat lubang-lubang kecil. Apabila serangan ulat kantung cukup parah dapat menyebabkan pelepah daun tersisa lidi.

Pengendalian ulat kantung dapat dilakukan dengan menyemprotkan larutan insektisida yang mengandung bahan aktif acephate dengan dosis 10 g/250 ml air, takaran ini untuk diaplikasikan pada 10 pohon.

Rayap (Coptotermes curvignathus)

Rayap menyerang benih atau bibit pada musim kemarau. Untuk hama rayap biasanya menyerang bagian pangkal batang, sehingga bagian pucuk menjadi layu dan lama kelamaan tanaman mati.

Pengendalian rayap dapat dilakukan dengan menutup bagian pangkal batang dengan pasir ataupun secara kimiawi menggunakan insektisida dengan bahan aktif Fipronil dengan dosis 50 ml/liter air atau Chlor pyriphos dengan dosis 6,25 ml/liter air.

Belalang (Valanga sp.)

Belalang merupakan salah satu hama tanaman pinang. Serangga ini mengalami metamorfosis sederhana yang di mulai dari telur, nimfa dan imago.

Belalang menyerang tanaman pinang dengan cara memakan daun yang masih relatif muda, gejala serangan daun berlubang tidak beraturan bahkan pada serangan berat yang tersisa hanya tulang daun pinang.

Pengendalian dilakukan dengan entomopatogen Metarhizium anisopliae, Nosuma locustae atau menggunakan insektisida berbahan aktif organofosfat seperti fenitrothion.

Kutu

Ada 3 jenis kutu menyerang tanaman pinang, yaitu kutu merah (Raolella indica Hirst), kutu putih (Oligonychus Indicus Hirst) dan kutu oranye (Dolichotetranychus sp.) yang hidup berkelompok di bawah daun dan mengisap cairan di daun dan mengakibatkan daun berwarna kekuningan, coklat dan akhirnya mengering.

Kutu oranye menyerang buah yang masih muda dan bersembunyi dibagian dalam perianth buah serta mengisap cairan, sehingga buah akan gugur. Pengendalian dilakukan dengan penyem-protan Kelthan 1,86 ml/l air ataupun penggunaan musuh alami predator antara lain Chilocorus sp.

Kepik (Carvalhoia arecae Miller.)

Kepik ditemukan berkumpul di bagian ujung ketiak daun. Kepik dewasa berwarna hitam dan kepik muda berwarna hijau kekuningan, keduanya mengisap cairan pada bagian spindle sehingga pertumbuhan tidak normal.

Daun yang telah dihisap nampak garis-garis nekrotik berwarna coklat tua lama kelamaan daun mengering dan patah. Pengendalian dilakukan dengan insektisida sistemik Sevin 4G dengan dosis 10 g/pohon dengan interval 3 bulan per aplikasi.

Tempayak Akar (Leucopholis burmeistri)

Tempayak akar atau dikenal tempayak putih merupakan hama yang cukup merugikan tanaman pinang. Bentuk larva hama ini seperti huruf ”U”, serta tubuh lembut dengan kaki berbulu berwarna cokelat (Gambar 10). Larva memakan akar pinang muda dan tua, akibat serangannya daun berubah warna kuning, buah gugur dan pohon mudah rebah bila terkena angin.

B. Penyakit Tanaman Pinang

penyakit
Via www.kompasiana.com

Bercak Daun Menguning (Yellow leaf spot)

Penyebabnya adalah cendawan Curvularia sp. Gejala pada lamina daun, terlihat bercak-bercak kuning berdiameter 3 – 10 mm. Infeksi lanjut dapat menyebabkan kematian bibit. Penyemprotan dengan Dithane dapat mengurangi serangan.

Leaf Blight

Penyebabnya adalah Pestalotia palmarum Cooke. Jika pinang terkena penyakit ini akan terlihat bercak-bercak coklat kekuningan pada helaian daun. Untuk mengobati penyakit ini anda dapat memberikan pupuk N dan K2O ataupun dengan pemberian naungan dapat menekan penyakit.

Karat Merah Daun (Red rust)

Penyebabnya adalah Cephaleuros sp. Cendawan ini menginfeksi batang dan daun. Jika pinang sudah terkena, maka akan terlihat gejala awal seperti munculnyan bercak tak beraturan pada bagian batang dan daun yang berwarna kekuningan. Untuk menghindari perlu dibuat naungan secukupnya.

Busuk akar/Pangkal batang (root/coolar rot)

Penyebabnya adalah cendawan Fusarium sp. dan Rhizoctoria sp. Penyakit ini biasanya terlihat di pembibitan dengan sistim drainase jelek. Serangan cendawan ini mengakibatkan tanaman layu.

Busuk Buah (fruit rot)

Penyebabnya adalah Phytopthora arecae. Awalnya bercak basah hanya terlihat dipermukaan buah dekat kelopak bunga (perianth) saja. Ketika penyakit ini sudah parah, maka bercak yang hanya terlihat dipermukaan buah akan menyerang bagian dalam buah pinang bahkan untuk pinang muda.

Jika bercak mencapai bagian apikal buah akan menyebabkan buah gugur. Pengendalian secara kimia dapat di lakukan dengan fungisida Copper oxychlorride serta fitosanitasi (pembersihan) kebun.

Demikian ulasan tetang Pinang dari Pengertian, Klasifikasi, Morfologi, Budidaya, varietas unggulan, memperbanyak pinang, Hama dan Penyakit. Semoga artikel ini bermanfaat untuk anda semua.

5 Replies to “Pinang : Deskripsi, Klasifikasi, Morfologi, Budidaya, Hama dan Penyakit

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *